Kota Siantar, Rabu (29/10/2025). Dalam upaya meningkatkan gemar membaca dan menumbuhkan budaya literasi sejak dini, Kelurahan Kota Siantar terus berinovasi melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat berbasis pendidikan. Salah satu wujud nyata komitmen tersebut adalah pengembangan Pustaka Tunggu Kelurahan Kota Siantar sebagai pusat literasi bagi sekolah-sekolah dasar di sekitaran wilayah kelurahan.

Pustaka Tunggu yang semula hanya dimanfaatkan sebagai sarana membaca masyarakat umum kini berkembang menjadi ruang interaksi dan pembelajaran bagi siswa dari berbagai sekolah dasar negeri, seperti SDN 080, SDN 089, dan SDN 101 Kota Siantar. Setiap pekan, siswa-siswi dari sekolah tersebut berkunjung ke pustaka untuk membaca, berdiskusi, dan mengikuti berbagai kegiatan literasi yang dikemas menarik.
Kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan kebiasaan membaca, tetapi juga menjadi ruang edukatif yang memperluas wawasan dan membentuk karakter anak-anak agar mencintai ilmu pengetahuan. Di dalam suasana yang santai namun edukatif, anak-anak tampak antusias memilih buku bacaan sesuai minat mereka — mulai dari cerita rakyat, kisah tokoh nasional, hingga buku sains sederhana.
Lurah Kota Siantar, Alamria Pramana, S.Pd.I., M.Pd., NL.P, menuturkan bahwa keberadaan Pustaka Tunggu merupakan bagian dari upaya kelurahan dalam mendukung program literasi nasional serta inovasi daerah Kabupaten Mandailing Natal. Ia menegaskan bahwa membaca bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga sarana membentuk karakter dan nilai-nilai positif bagi generasi muda.
“Kami ingin menjadikan Pustaka Tunggu bukan sekadar tempat membaca, melainkan rumah belajar bersama yang melahirkan anak-anak dengan semangat ingin tahu tinggi dan kecintaan terhadap ilmu. Literasi harus tumbuh dari rasa bahagia dan rasa ingin tahu, bukan paksaan,” ujar Lurah Kota Siantar.

Lebih lanjut, pihak kelurahan juga berkolaborasi dengan para guru dan relawan literasi untuk mengadakan kegiatan tematik seperti kelas dongeng, pojok baca tematik, lomba menulis cerita pendek, serta pelatihan literasi digital. Program-program ini dirancang agar anak-anak tidak hanya membaca, tetapi juga mampu menulis, berpikir kritis, dan berkreasi melalui literasi.
Inisiatif menjadikan Pustaka Tunggu sebagai pusat literasi ini turut mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah dan masyarakat sekitar. Guru-guru mengapresiasi langkah kelurahan yang memberikan ruang edukatif di luar sekolah, sementara orang tua siswa merasa terbantu karena anak-anak mereka mendapatkan akses bacaan berkualitas dengan suasana yang nyaman dan inspiratif.
Dengan sinergi antara pemerintah kelurahan, sekolah, dan masyarakat, Pustaka Tunggu kini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah ruang sederhana dapat bertransformasi menjadi pusat kegiatan literasi yang hidup dan bermanfaat. Harapannya, keberhasilan ini dapat menginspirasi kelurahan lain untuk mengembangkan konsep serupa, sehingga semangat membaca dan belajar dapat terus tumbuh di seluruh lapisan masyarakat. (Admin)
